Delft - Foto Dalam Dompet


 Foto Dalam Dompet



Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Hai Desember,
Jelita bermata biru

Bagaimana kabarmu? Semoga kamu, aku, keluargamu, keluargaku, dan orang-orang yang pernah mengenal kita selalu diberi kesehatan dan keselamatan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah. Aamiin. Aku lihat, akhir-akhir ini  kamu sibuk sekali, tiap hari pasti ada kegiatan, entah di kotamu belajar sekarang ataupun di luar kota. Bagaimanapun tetap jaga kesehatan, terlebih ditempatmu sekarang masih musim penghujan, jangan sampai karena kesibukan itu membuatmu lalai dengan kesehatan sendiri.

Sengaja aku tulis surat ini, karena ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan. Pertama, selamat ulang tahun.  Mungkin waktu surat ini sampai di rumahmu sudah telat. Sengaja aku kirim lewat pos supaya ada bekasnya di tempatmu, dan barangkali akan kamu simpan surat ini. Aku juga belum bisa memberikan hadiah seperti layaknya teman-temanmu di sana. Do’aku semoga kesuksesan selalu menyertaimu, aamiin. Bahkan permintaanmu tempo dulu agar aku tuliskan surat secara rutin kemudian dibukukan untuk hadiah ulang tahunmu belum bisa aku penuhi sampai sekarang karena satu dan lain hal. Aku lihat, di tempatmu sekarang sepertinya kamu juga sangat bahagia, dengan teman-teman yang baik kepadamu, bahkan ada satu momen dimana kamu mendapatkan kejutan dari orang spesial. Aku ikut senang. Itu saja.

Kedua, aku ingin menceritakan satu kisah untukmu. Kamu pernah mendengar cerita tentang Merpati dan Cenderawasih, Desember? Akan aku ceritakan untukmu,

“Di suatu hutan yang rimbun, hidup seekor merpati jantan yang pendiam. Berbeda dengan dengan merpati lainnya, dia tidak suka bergaul dengan teman-temannya, lebih suka memilih untuk memisahkan diri dari keramaian, sibuk dengan pikirannnya sendiri yang tidak pernah berhenti memipirkan banyak hal. Bukan karena tidak mau bergabung dengan yang lain, tapi ada rasa canggung dan tidak percaya diri manakala dia ikut bergabung bercengkerama dengan sebayanya.

Suatu hari, merpati merasa bosan hanya bermain dan mencari makan di hutan itu. Timbul keinginan dalam hatinya untuk sekadar melihat-lihat hutan di seberang sungai. Mulailah dia terbang dari sarangnya menyesuri tiap jengkal hutan itu. Sampai pada suatu tepi sungai, dia melihat cenderawasih betina yang sangat cantik. Dia sangat tertarik dengan keindahan cenderawasih itu.  Diam-diam dari balik dedaunan dia berusaha mengintip apa yang sedang dikerjakan cendewarasih tersebut. Baginya, baru pertama kali dia melihat burung seindah itu. Diamatinya lama-lama cenderawasih tersebut sampai tak terlihat lagi olehnya karena entah sudah terbang kemana. Setelah itu, pulanglah merpati kembali ke sarangya dengan perasaan senang sekaligus penasaran.

Esoknya, ia kembali terbang ke tepi sungai itu, pun masih sama, ingin melihat keindahan cenderawasih itu. Sampai di tepi sungai, dilihatnya cendewasih itu yang sedang bermain dengan sekawannnya. Tetap indah dan anggun, tak jauh berbeda dengan kemarin saat pertama dia  melihatnya. Sampai akhirnya, yang dilakukan merpati tiap harinya adalah melihat kecantikan dan tingkah cenderawasih itu.  Bahkan merpati sampai tahu jadwal rutin cenderawasih itu, mulai dari  pagi mencari makan, siang istirahat, sore bermain dengan sekawannya, menjelang malam kembali ke sarangnya. Seperti itu, setiap hari. Merpati belum sampai berani untuk berkenalan langsung dengan cenderawasih, baginya cukup hanya dengan mengamati cenderawasih itu dia sudah merasa senang.

Sampai suatu ketika, musim kawin bagi cenderawih datang. Merpati belum tahu tentang hal ini. Sama seperti kebiasaan sebelumnya, dia masih saja mengamati tingkah cenderawasih. Namun kali ini ada yang berbeda dan cukup mengganjal dalam hatinya. Dilihatnya cendewasih tersebut sedang berduaan dengan jantannya yang sama-sama indah, mungkin mereka masih memadu kasih, memasuki musim kawin memang biasanya cenderawasih seperti itu. Astaga, dalam hati merpati timbul cemburu. Ya, cemburu seperti pada umumnya. Meskipun demikian, dia juga sadar, mana mungkin merpati bisa dekat dengan cenderawasih, mana mungkin merpati suka dengan cenderawasih, mana mungkin, mana mungkin, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang sebenarnya mustahil itu muncul dalam pikirannya. Sampai pada satu kesimpulan, merpati dan cenderawasih berbeda, mereka tidak akan pernah bersama karena memang sudah seperti itu semesta mengaturnya. Cukup baginya melihat kebahagian Cenderawasih dengan sejenisnya, bukan dengan dirinya.”

Cerita yang sama sekali tidak menarik bukan? Haha. Memang seperti itu, sengaja aku tulis untuk memenuhi isi surat ini. Itu saja. Tapi dari sana, kamu pasti bisa mengambil kesimpulan, entah apakah sama dengan kesimpulan merpati atau jutru kamu punya kesimpulan sendiri.

Ketiga, kamu masih ingat ketika kita sama-sama ingin bertukar foto? Ah, ini sedikit lucu. Ya, waktu itu bertukar foto masih susah, tidak seperti sekarang yang bisa dikirim via media sosial, bahkan kita pun bisa mengunduhnya langsung dari akun media sosial yang ingin kita mintai fotonya. Mau bertukar foto cetak? Astaga, zaman itu cetak  foto masih mahal, mau cetak foto harus pikir-pikir dulu. Uang saku waktu itu masih tujuh ratus rupiah, hanya cukup untuk beli bubur ayam, es teh, gorengan tiga, sisanya untuk ditabung. Pun seandainya mau cetak, aku sama sekali tidak punya foto yang menarik waktu itu. Haha. Bahkan kalau kamu tahu, aku sampai tanya ke salah satu guru, “Pak, masih ada foto saya yang sudah dicetak?”. Astaga, konyol sekali, haha. Tapi waktu itu memang sepertinya guru itu punya fotoku, kebetulan waktu itu aku pernah mau diikutkan lomba dan beliau akhirnya menyetakkan fotoku, tapi aku juga tidak tahu beliau cetaknya pas atau lebih. Waktu ditanya, “Buat apa kalau boleh tahu?”. Kamu tahu aku jawab apa waktu itu? “Supaya punya aja”. Haha, jawaban macam apa itu, kalau diingat lagi ternyata dulu aku konyol juga. Sampai pada akhirnya, kita sama-sama tidak jadi bertukar foto. Menarik itu diingat sekaligus menarik juga untuk sekarang ditertawakan, haha.

Mungkin sampai sini dulu saja, kalau aku tuliskan semua cerita dalam satu surat sepertinya tidak akan menarik. Malah jatuhnya nanti aku tidak punya bahan lagi untuk bersurat dengan bahasan yang sama sekali tidak penting seperti ini, haha.

Tentu aku ingin  mengenang cerita-cerita itu, walau malu, karena mengenang adalah perkerjaan pensiunan.

Delft, 13 Desember 2033
September




Komentar