Secangkir Kopi di Tepi Pantura
Duduk di serambi penginapan
Menatap keliaran kekanakan yang tergerus zaman
Berkejaran dengan larian kemodernan
Kanak zaman now yang katanya lebih berkemajuan
Sapa orang lebih sibuk dengan mobile legendnan
Duduk di bawah rerimbunan pepohonan
Sejuk menyapa diri yang rindu kedamaian
Reremaja yang kini tak lagi malu berduaan
Asik bercengkrama dengan pasangan
Lupa kalau tata masyarakat masih ada aturan
Oh Tuhan, apakah dengan ini harus kusyukuri
Melihat geliat keburukan disana sini
Menari-nari bak tak kenal siapa lagi
Tak acuh dengan siapapun yang menghampri
Duduk di reramaian warung kartini
Menikmati secangkir kopi pantura yang tak hangat lagi
Sembari lirik berita koran pagi
Berita korupsi, aborsi, dan politisi menghiasi sudut informasi
Menghujam relung batin sanubari
Tanya apakah dunia tak lagi punya budi pekerti?
Bogor, 5 Januari 2019
Puisi ini dini dulu gue tulis karena iseng pingin ikut lomba cipta puisi gitu kan. Idenya dapet ketika lagi ngrenung permasalahan pemuda jaman sekarang itu apa sih. Nah ketemu satu topik yaitu pemuda sekarang itu sudah mulai acuh dengan lingkungan sekitarnya, tata norma dianggap cuman aturan lama, nasehat orang yang lebih tua dianggap seperti radio lama, hingga akhirnya pola yang terbentuk dalam masyarakat itu sudah runyam karena aturan sudah ditinggalkan, hanya ego dan nafsu yang jadi pedoman.
Entah sampai kapan akan seperti ini, ketika logika berfikir sudah terbalik, waktu kita pingin maju, dibilang kemunduran, pas kita lagi mundur-mundurnya malah itu disebut kemajuan. Loh ini maju apa mundur??? Ketika baik dianggap buruk, ketika buruk dianggap baik. Putih tertutup hitam, hitam seolah menjelma jadi putih bersih.

Bagus banget mas 😊
BalasHapusMantap, terima kasih, sila jangan lupa ada ajakan bikin puisi untuk uyghur
BalasHapus