Sajak Sajadah Tikus
Di sudut ruang memori yang tajam nan kelam
Perjalanan hidup yang tak berujung pada sebuah kepastian
Menengok sejarah kehidupan yang tak beraturan
Aku yang dulu gagah tak terperikan
Tegap berjalan menatap metropolitan yang kejam menantang
Kebijakan-kebijakan sengaja kubuat menyengsarakan
Rakyat menjerit memohon sebuah keadilan
Ahahahaha,
Aku yang masih tertawa melihat jerit kelaparan
Di gang-gang sempit sudut perkotaan
Tangan-tangan kecil yang rindu akan belaian
Ahahahaha,
Hei Bung! Masih ada lahan uang yang bisa aku tanam?
Hei Bung! Proyek sebelah sana apa sudah berjalan?
Hei bung! Tak usahlah kau pusing pikirkan urusan
Cukup kau beri uang, selesailah itu urusan!
Oh Tuhan, masih adakah kesempatan untukku kembali
Di sadajah berdasi yang kubeli dari jerih korupsi
Ah, tadi ku bilang “jerih korupsi?”, indah sekali
Aku bersaksi tuk kembali mengabdi pada sang ilahi
Apakah Kau masih terima tobat ini?
(Semoga kalian paham tentang apa yang ingin saya sampaikam pada tulisan di atas)
Oiya maaf, untuk saat ini belum bisa banyak nulis karena masih ujian, insya Allah kedepan nulis cerita lagi. Untuk sementara gue nulis puisi dulu yang pendek-pendek kayak diatas

Komentar
Posting Komentar