Surat Ayah

Aku Takut, Anakku


Ini adalah tulisanku, tulisan yang benar-benar  menggambarkan isi hatiku sebagai seorang ayah. Sungguh, aku khawatir dan takut. Bagaimana tidak, anakku, anak gadisku sekarang sudah tumbuh dewasa dan sebentar lagi tiba saatnya kamu akan menikah, dipinang oleh sosok laki-laki yang sama sekali aku tidak pernah mengenal dia sebelumnya. Sudah barang tentu, dia pasti akan membawamu, tinggal satu rumah bersamanya. Dan aku pun saat ini belum tahu kelak anakku akan mendapatkan sosok laki-laki yang jauh entah dimana atau dekat dengan rumahku saat ini. Sungguh aku khawatir, bagaimana seandainya kamu akan lupa aku, ayah yang mengasuhnya sejak kecil, tentu bersama ibumu. Kamu dulu masih kecil anakkku, dan sekarang sungguh tidak terasa kamu sudah besar.

Anakku,
anakku sing manis, ja pijer nangis
Wahai anakkku
anakku yang manis, janganlah menangis terus

Sun gendhong
sun lelelo lelo
Aku gendhong  Kamu
aku timang-timang  kamu "lelelo lelo"

Kamu masih ingat, anakku, sewaktu kecil kamu nakal sekali. Ah iya benar, kamu nakal sekali dulu. Masih ingatkah kamu, anakku, kamu pernah naik pohon mangga milik tetangga kita? Astaga, aku pun tidak menyangka, anak gadisku yang cantik ini bisa naik pohon tinggi. Tapi waktu itu, entah karena apa, kamu jatuh dari pohon itu. Kamu menangis, keras sekali tangisanmu. Aku lari menghampirimu, menggendongmu, berusaha menghiburmu agar tidak menangis lagi. Ah iya anakku, itu dulu, saat kamu masih kecil dan sekarang kamu sudah tumbuh dewasa anakku. Aku khawatir, sungguh aku khawatir dan takut kehilanganmu. 

Ning pang wit
wiwit bang bang wetan
wis tanpa selo
di dahan pohon
mulai dari cahaya sang fajar
sudah tak bercelah

Saloka, unine kepodhang
nganti dong wengi
Bersautan bunyi burung kepodhang
hingga datang malam

Sampai suatu ketika, saat kamu masuk usia remaja. Mungkin itu untuk pertama kalinya, kamu membohongiku, anakku. Kamu membohongiku seolah-olah Aku tidak akan pernah tahu. Kamu ijin kepadaku untuk belajar bersama teman-temanmu, tapi ternyata kamu malah asik berjalan-jalan  di taman dengan laki-laki, laki-laki yang aku pun tak pernah mengenalnya. Sungguh, aku marah, marah sekali waktu itu. Kenapa saat itu kamu sudah berani berbohong kepada ayahmu ini, anakku? Aku mendidikmu tidak pernah sekalipun mengajarkanmu untuk berbohong, tapi justru sekarang kamu mulai berani membohongiku. Aku menangis, tapi tidak pernah tangis itu aku tampakkan di depanmu, karena sebagai ayah, aku tidak ingin kamu menganggapku sebagai sosok  ayah yang cengeng, tidak tegas, dan lemah. Tangisku adalah tangisan dalam hati yang kamu tidak akan pernah tahu. Tapi diam-diam dalam malamku, sewaktu kamu masih tidur, aku benar-benar menangis, menangis dalam sujudku. Aku mengadu kepada Tuhan, "Ya tuhan, kenapa anakku sekarang sudah berani berbohong kepada aku? Apa salahku sampai anakku berani berbohong kepadaku, apakah aku salah dalam mendidiknya Ya Tuhan?".

Kuwi ngengudhang Kowe
itu semua untuk menimang "ngudhang" kamu

Mbesok yen wis gedhe
nalikane sesandingan karo kekasihmu
Saat nanti kamu sudah dewasa
ketika sudah menikah dengan kekasihmu

Kekaronsih ngadep ombaking urip
ojo lali marang, ojo lali marang
Berdua menghadapi ombaknya kehidupan
jangan lupa dengan, sekali lagi jangan sampai lupa dengan

Bang- bang wetan, manuk kepodhang
Cahaya Sang Fajar dan burung kepodhang

Kini kamu sudah dewasa, sebentar lagi kamu akan menikah. Tapi aku berharap kamu tidak akan pernah lupa dengan Ayahmu. Betapa pun nanti kamu bahagia dengan pasanganmu, sisihkan kebahagiaan itu untukku, agar aku bisa merasakan kebahagiaan sebagaimana apa yang kamu rasakan. Kalau aku sakit, tolong jenguklah aku, sesibuk apa pun kamu saat itu. Karena sungguh, kehadiranmu merupakan obat kesembuhan yang paling aku harapkan. Kamu datang dengan pasanganmu, mungkin bisa jadi dengan anak-anakmu, lantas kemudian anakmu datang menghampiriku, seraya berkata, "Kakek, kakek cepat sembuh ya. Aku ingin bermain dengan kakek." Aku pun akan selalu berdoa semoga kelak anak-anakmu akan berbakti kepadamu, sebagaimana dulu kamu sangat berbakti kepadaku, meskipun terkadang sesekali kamu nakal dan pernah berbohong kepadaku. Jangan sampai anakmu nanti berani berbohong kepadamu, atau kepada pasanganmu. 

Anakku, jamanku dan jamanmu memang berbeda. Kamu sudah dewasa, kamu sudah bisa menentukan pilihanmu sendiri yang menurutmu itu baik untukmu. Anakku, sejak jaman nenek moyangmu, kemerdekaan merupakan dambaaan, bersyukurlah kini kemerdekaan telah berada di tanganmu. Jamanku dulu, semua yang aku lakukan harus atas perintah orang tuaku, bahkan sampai-sampai dalam urusan menikah pun, Aku dijodohkan oleh orang tuaku, kakek nenekmu. Tapi sekarang tidak, anakku. Aku ingin kamu bisa memilih sendiri siapa dia yang benar-benar kamu cintai sehingga kamu akan hidup bahagia dengannya. 

Anakku, jamanku dan jamanmu memang berbeda. Tapi kamu bisa mengambil pelajaran di jamanku untuk kehidupan yang lebih baik di jamanmu.


Mbesok yen wis gedhe
nalikane sesandingan karo kekasihmu
Kekaronsih ngadep ombaking urip
ojo lali marang, ojo lali marang
Bang- bang wetan, manuk kepodhang

Anakku, barangkali nanti betapapun cintanya pasanganmu kepadamu, percayalah cintaku kepadamu jauh lebih besar dari itu.

Anakku, semoga kamu selalu bahagia, dimanapun dan kapanpun kamu berada. 
Aku akan selalu menyayangimu.

Ayahmu


Catatan: lirik jawa di ambil dari tembang Lullaby, Sudjiwo Tejo

Komentar

Posting Komentar