Hoogere Burgerschool
Hai Desember
Jelita bermata biru
Assalamu'alaikum warahamatullahi wabarakatuh
Hai Desember, bagaimana kabarmu? Semoga kamu, aku, keluargamu, keluargaku
dan orang-orang yang pernah mengenal kita selalu diberikan kesehatan dan
keselamatan dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Ya, bagaimanapun, semua yang kita
lalui dalam hidup memang atas kehendak Tuhan. Kita tidak pernah bisa meramalkan
masa depan, termasuk kesehatan dan keselamatan atas diri kita ini. Oleh sebab
itu, bukan maksudku ingin menggurui, tapi aku hanya berpesan agar kamu selalu
menghadirkan Tuhan dalam setiap aktivitasmu.
Ini ketiga kalinya aku mengirimkan surat untukmu, tak bosan rasanya
mengirimkan surat ini untukmu meskipun surat-surat yang lalu belum satupun kamu
balas. Mungkin kamu masih sibuk sehingga belum sempat membalas surat-suratku, aku
pikir begitu. Tak mengapa, itu adalah hakmu, hendak membalas surat-suratku atau
tidak. Aku sudah cukup senang seandainya benar kamu telah membaca
surat-suratku. Itu saja.
Oh iya, aku dengar dari salah seorang temanmu, benar saat ini kamu
sedang mengadakan kegiatan pengabdian di salah satu desa di Semarang? Luar
biasa. Senang sekali akhirnya kamu mau mendengar saranku agar sesekali ikut
kegiatan pengabdian di desa. Tentu, sudah sepantasnya tiap orang yang pernah
sekolah tinggi harus peka dengan sekitarnya. Jangan sampai karena pendidikannya
malah membuat dia asing di daerahnya sendiri, merasa lebih tinggi dari mereka.
Tentu, kamu pernah membaca sejarah negara kita semasa jaman kolonial dulu. Waktu
itu, pribumi yang berkesempatan sekolah di HBS (Hoogere Burgerschool)
merasa lebih tinggi daripada pribumi pada umumnya yang tidak punya kesempetan
sekolah seperti itu. Bahkan ia lupa bahwa dirinya merupakan bagian dari pribumi
itu.
Kamu masih ingat sejarah itu bukan? Sebaiknya aku terangkan lagi saja
untukmu. Pada masa kolonial dulu, setelah adanya Politik Etis atau Politik
Balas Budi dari kerajaan Belanda sebagaimana pidato yang disampaikan Ratu
Belanda Wilhelmina saat penobatan dirinya, ada tiga poin yang menjadi perhatian
yaitu irigasi, transmigrasi, dan pendidikan. Setidaknya ada tiga tingkatan
pendidikan semasa itu, yaitu ELS (Europeesche Lagere School) atau
setingkat dengan sekolah dasar, MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)
setingkat dengan sekolah menengah pertama, dan HBS (Hoogere Burgerschool)
setingkat dengan sekolah menengah umum pada Hindia Belanda. Nah,
sekolah-sekolah ini biasanya hanya diperuntukkan untuk orang Belanda, Eropa,
atau elite pribumi. Pada masa itu, mereka yang bisa lulus dari HBS merupakan
orang-orang yang terpelajar dan benar-benar pintar. Kalau diibaratkan, mungkin
lulusan HBS itu bisa dibilang setara dengan lulusan perguruan tinggi saat ini,
sehingga tingkat strata sosial lulusan HBS terlihat lebih tinggi daripada rakyat
pada umumya semasa itu, bahkan mereka yang lulusan HBS bisa dengan mudah
menjadi seorang bupati atau menjadi pejabat administratur pemerintahan. Mungkin
dikarenakan itu, pribumi yang berkesempatan sekolah di HBS jadi enggan berbaur
dengan pribumi pada umumnya dan bisa jadi sama sekali tidak mengetahui dan
tidak mau tahu penderitaan saudara-saudara sebangsanya yang diperbudak oleh
Belanda, kecuali hanya sebagian. Nah, oleh sebab itu, aku sangat senang setelah
tahu saat ini kamu sedang mengadakan kegiatan pengabidan di desa. Setidaknya,
kamu masih ingat sekitarmu meskipun sudah sekolah tinggi. Sungguh aku senang
sekali.
Bicara tentang pengabdian, aku jadi teringat salah satu tembang macapat,
yaitu Dhandanggula. Seperti ini liriknya,
Pamitanku nimas sidoasih
Anut runtut tansah reruntungan
Permintaanku wahai kekasih
Selalu bersama-sama
Ing sarino saharine
Datan ginggang sarambut
Di ruang dan waktu
Tak berjarak meski cuma sehelai rambut
Lamun adoh caketing ati
Yen cedak tansah mulat
Kalau jauh dekat di hati
Kalau dekat berpandangan
Yidoasih tuhu
Kadyo mimilan mintuna,
Begitu sejatinya asmara,
seperti mimi dan mintuno
ayo bareng nimas anglakoni wajib,
sidoasih bebrayan
Ayo bersama melakukan panggilan sosial
cinta kita berdua tak bermakna jika tidak menjalarkan cinta pada sesama
Iya benar, cinta tidaklah benar-benar menjadi cinta jika tidak bisa
menjalarkan cinta pada sesama. Barangkali dengan pengabdian di desa itu bisa
menjadi permulaan bagimu untuk menjalarkan cinta pada sesama. Ilmu pengetahuan modern
memang seringkali bisa merubah seseorang. Dengan ilmu pengetahuan modern,
binatang buas akan menjadi lebih buas, dan manusia keji akan semakin keji. Tapi
jangan dilupakan, dengan ilmu pengetahuan modern, sebuas-buasnya hewan juga
bisa ditundukkan. Kamu tahu yang kumaksud, kan? Benar, keegoisan. Kamu, aku,
dan kita semua sekarang masih beruntung untuk melakukan kegiatan pengabdian di
masyarakat tidak lagi ada rasa curiga mereka ke kita. Dulu, semasa praktik
kerja paksa masih dijalankan, kalau ada orang, entah itu pribumi, indo, atau
Eropa totok yang hendak bersimpati kepada pekerja tanam paksa, mereka pasti
akan menaruh curiga. Petani Jawa waktu itu takut pada semua yang bukan petani,
karena dari pengalaman berabad-abad mereka mengerti tanpa sadarnya, semua yang
berada di luar mereka secara sendiri atau bersama-sama adalah perampas segala
yang ada pada diri mereka. Ya, secara alam bawah sadar, mereka yang bukan
petani adalah musuh mereka yang tidak pernah bisa dipercayai.
Sekarang aku masih di Leiden, melanjutkan studi magister di Leiden
University. Ya, meskipun tak sebesar Amsterdam, Leiden punya pusat komunitas
pelajar yang lebih banyak. Kota ini juga cukup akrab di telinga orang Indonesia
karena keterikatannya dengan perjuangan kemerdekaan negara kita. Menurutku,
Leiden juga kota yang indah, terdapat kanal-kanal yang indah dan bangunan
bersejarah yang erat kaitannya dengan dunia seni di Eropa. Kadang terbersit
dalam pikiranku, kapan dan apakah mungkin aku bisa menikmati kota indah ini
bersamamu, menaiki perahu-perahu kecil mengelilingi kota. Indah sepertinya. Ya,
bahkan di kota ini yang jaraknya ribuan mil dari tempatmu, aku masih
mengingatmu. Mungkin, benar kata temanku, aku sedang rindu.
Benar, aku sedang rindu, meskipun aku tahu rindu memang berat. Dan sampai
detik ini pun, segunung apapun diamku merenung, tak pernah aku sampai pada
pemahaman mengapa aku begitu merindukanmu.
Leiden, 27 Desember 2031
September

Komentar
Posting Komentar