Menghadirkanmu dalam Diam
Hai Desember
Jelita bermata biru
Jelita bermata biru
Assalamu'alaikum warahmatulllah
wabarakatuh
Hai Desember, bagaimana kabarmu? Semoga
kamu, aku, keluargamu, keluargaku, dan orang-orang yang pernah mengenal kita
selalu diberi kesehatan dan keselamatan dari Tuhan. Bagaimanapun juga kemampuan
kita cuman bisa menjaga, toh kalau Tuhan menghendaki kita jatuh sakit atau
keselamatan kita terancam, bisa apa kita? Oleh karena itu, aku harap kamu
selalu jaga kesehatan dan berhati-hati di manapun dan kapan pun kamu
berada.
Aku masih menunggu jawaban surat yang
pernah aku kirimkan tempo lalu. Walaupun memang tak pernah aku katakan harus
dijawab surat itu, tapi barangkali akan ada jawaban entah meskipun cuman
sekadar salam dan ucapan terima kasih, tak lebih dan tak kurang dari itu,
kapanpun kamu mau. Memang aku tak pandai berkata, maka dari itu
kusampaikan pesan ini lewat tulisan, tulisan yang aku harap kamu mau membacanya
sampai selesai dan pada akhirnya akupun merasa lega karena sudah menyampaikan
apa yang hendak ingin aku sampaikan. Sungguh, jauh membuatku selalu khawatir,
namun dekat menjadikanku bisu dan kehilangan kata-kata. Entah.
Kamu tahu Saturnus? Satu dari sekiaan
benda langit yang kata orang-orang sangat indah. Benda langit yang sekarang boleh
kita sebut sebagai planet ini memang tampak indah bukan main. Planet bercincin
ini boleh jadi kita katakan sebagai simbol kasih sayang dan harap ingin
memiliki. Bukankah dalam sebuah prosesi lamaran pun tak pernah luput dengan
penyerahan cincin? Sebagai bukti bahwa mempelai laki-laki berharap dan
ingin segera memiliki pasangannya. Tapi kamu tahu, Desember, bahwa dibalik
keindahan itu, Saturnus juga memiliki rahasia-rahasia unik di dalamnya. Di
Yunani kuno, dua benda bersinar raksasa, matahari dan bulan, disebut Helios dan Selene, planet
terjauh (Saturnus) disebut Phanion, sang penerang, diikuti
oleh Phaeton (Yupiter), sang cerah, diikuti lagi oleh Pyroeis (mars), Phosphorus (venus),
dan Stilbon (merkurius). Lain halnya dengan Yunani, saat
bangsa Romawi mempelajari astronomi Yunani, mereka memberi nama planet sesuai
nama-nama dewanya, dan sebutan untuk Saturnus adalah Cronus. Mereka
percaya kalau Cronus adalah dewa pertanian dan panen, sama halnya
dengan bangsa Yunani yang memiliki dewa dengan nama Kronos.
Meskipun Saturnus tampak sangat indah, jangan harap kamu bisa tinggal di sini,
Desember, sebab inti dari planet ini diperkirakan terdiri atas batuan padat
dengan atmosfer yang terdiri atas metana dan amonia, tentu kamu tahu kalau
metana dan amonia itu sangat berbahaya kalau dihirup. Dan yang tak kalah
mengerikan adalah jika angin tornado di bumi hanya berkecepatan maksimum 483
km/jam, angin di Saturnus 4 kali lebih cepat dari tornado di bumi, tepatnya
kurang lebih 1800 km/jam. Kecepatan suara di bumi saja hanya sekitar 343
m/detik atau 1238 km/jam. Menakjubkan sekali bukan?
Ah ya sudahlah aku rasa kamu pasti
kurang suka membahas itu. Akan lebih baik kalau aku teruskan tulisan
ini, membahas hal-hal lain yang semoga membuatmu senang dengan suratku. Oh iya,
tanggal 23 Juni tepat pukul 16.38 WIB, kamu pernah tanya,
"Apa arti Desember bagi September? Kenapa
September sampai buat tulisan tentangnya dan Desember?"
Kamu
masih ingat bukan? Waktu itu, 7 menit setelah pertanyaan itu sampai, tepatnya
pukul 16.45 WIB, aku hanya jawab singkat,
"September itu permulaan, sedangkan akhirnya
adalah Desember"
Iya benar, September adalah permulaan
dan akhirnya adalah Desember. Kalau kamu perhatikan nama-nama bulan yang ada di
kalendermu, entah kalender di gawaimu atau kalender dinding rumahmu, nama-nama bulan yang berakhiran "Ber" itu
dimulai dari bulan September dan yang terakhir jatuh
di bulan Desember. Kamu tahu, Desember, kalau kata 'ber' dalam
bahasa moyang kita, bahasa Indonesia, itu memiliki arti mempunyai,
menyatakan sikap mental. Bisa juga diartikan saling atau akan
menjadi. Ya benar, aku artikan itu sebagai mempunyai, menyatakan sikap
mental, saling, atau akan menjadi. Dan sikap ini, memang mungkin aku saja yang
tidak pernah cukup berani untuk menjabarkan apa yang sepatutnya kamu ketahui. Aku
artikan dia sebagai mempunyai karena memang harapan
setiap orang yang sedang berusaha dekat adalah mencoba untuk mempunyai dan
atau memiliki. Pada akhirnya semua itu akan menjadi sebuah
tanya, akankah saling mendekat atau justru malah saling menjauh
satu sama lain, lantas kemudian akan menjadi berpisah atau
bersatu. Dan satu dari sekian kebodohanku adalah cemburu. Padahal,
sebenar-benarnya cemburu yang menyakitkan adalah cemburu pada seseorang yang
tidak peduli akan perasaan kita. Ya benar, secara tersebulung, ku susupi hari-harimu
dengan pengharapan. Secercah harapan yang mampu hadir bahkan di ruang
tergelap. Tapi tenang saja, kamu takkan kehilangan segala perhatianku. Aku
hanya menyembunyikanya dengan lebih rapi lagi. Ya.. aku mengalah. Aku mengalah
karena aku percaya, kalau kamu memang untukku sejauh apapun kakimu membawamu
lari, jalan yang kamu tempuh hanya akan membawamu kembali padaku. Paling tidak
aku pernah mengenal dirimu. Dan diam-diam, namamu jelas tertulis di buku
harianku, kontak telepon genggamku, sampai di dompet usangku. Lirih-lirih
kupanjatkan doa terbaik, semoga kelak kita akan 'dekat'. Meskipun, aku amat
sadar, mengenal namamu saja sudah lebih dari sekadar cukup. Aku berusaha, namun
aku lebih sadar diri. Itu saja. Barangkali ada satu kalimat yang pernah aku baca dan aku pegang sekarang, yaitu "ada yang mau menunggumu tanpa syarat apapun, dia siap pergi kalau kamu
menghendaki, bahkan siap bertahan kalau kamu tak mau kehilangan. Lalu masihkah
kamu mengharapkan seorang lain yang bahkan tak sedikitpun menyimpan rasa
padamu. Ada salah seorang teman pernah mengatakan "patah
hati juga punya harga diri. Perasaan juga berhak untuk diberi penghargaan.
Terlalu sia-sia untuk larut dalam ketidakpastian darinya. Saranku, kamu masih
punya waktu. Jadilah terbaik versimu sendiri. Waktumu terlalu berharga untuk
hal-hal galau seperti itu". Padahal aku pun tak pernah menceritakan
apa yang selama ini aku simpan. Lebih
tepatnya, mungkin aku menyimpannya terlalu rapih.
Barangkali kamu pernah mendengar
kisah tentang penyerbuan bangsa Eropa ke tanah Aceh bukan? Pada saat
itu persenjataan bangsa Eropa jelas jauh lebih maju dari pribumi Aceh.
Mereka sangat yakin dengan senapan, meriam, bom, dan senjata modern yang mereka miliki maka dengan mudah mereka bisa menaklukkan Aceh. Padahal mereka
belum tahu bagaimana karakter pribumi Aceh di sana. Sejujurnya, pada saat itu
rakyat Aceh juga gamang melawan bangsa Eropa. Mereka tahu dan teramat sadar
bahwa mereka pasti akan kalah melawan bangsa Eropa. Tapi bukankah kalah sebelum
berperang adalah perasaan yang sangat menyebalkan? Maka pada akhirnya saat itu
mereka memutuskan untuk tetap melawan, meski dengan persenjataan seadanya.
Hanya dengan siasat dan doa yang mereka panjatkan kepada Tuhan, mereka dengan
gagah berani melawan bangsa Eropa. Ketika bangsa Eropa mendarat di tanah Aceh,
mereka bingung dan heran karena tidak ada satu orang pun di sana, bahkan satu
bayi pun tidak mereka lihat. Ketika orang Eropa itu masih dalam kebingungan dan
keheranannya, diam-diam dari tempat persembunyiannya rakyat Aceh keluar dan
segera menyerang orang Eropa itu. Ya, pada akhirnya senapan dan persenjataan
yang mereka agung-agungkan bisa melawan pribumi Aceh dengan teramat mudah, sama
sekali tidak bisa mereka gunakan dengan maksimal dalam pertempuran jarak dekat
itu. Memang banyak rakyat pribumi yang gugur, tapi juga banyak pula orang Eropa
yang tewas disana, tewas oleh perlawanan pribumi Aceh dengan persenjataan
seadanya, meskipun jumlah orang Eropa yang tewas tak sebanyak ketika penyerbuan
di daerah yang lain. Tapi perlu kamu tahu, Desember, penyerangan bangsa Eropa di
tanah Aceh merupakan penyerangan dan perlawanan yang dalam sejarah dituliskan
sebagai salah satu perlawanan yang teramat sangat melelahkan dan dan menguras
perbendaharaan bangsa Eropa dalam jumlah cukup besar. Iya benar, hanya dengan
senjata sederhana, namun dengan siasat dan mental yang kuat rakyat Aceh bisa
menahan bangsa Eropa dalam waktu cukup lama. Intinya memang siasat dan mental.
Itu juga yang mungkin saat ini aku terapkan pada perasaaan ini. Siasat dan
mental. Entah
Astaga, bahkan namamu pernah aku tulis
pada sebuah bambu runcing yang aku dapat semasa muda dulu. Ya benar, bambu
runcing, simbol perjuangan sederhana namun luar biasa oleh pribumi melawan
bangsa Eropa. Waktu itu, sesaat sebelum aku tulis, Ah sudahlah mungkin tak
perlu aku ceritakan lebih disini. Toh itu dulu. Kalau kamu ingin tahu
kelanjutan ceritanya, kamu bisa temui aku kapan saja, itupun kalau kamu mau
menyempatkan. Ya benar seandainya sempat dan semesta mengijinkan. Karena
memang, kadang semesta itu suka bercanda, saat ketika sudah hampir dekat,
semesta malah berusaha menjauhkan, namun disaat jauh justru seolah-olah semesta
coba untuk mendekatkan.
Rindu memang berat, tentu kamu tahu itu,
dan kamu adalah adalah jembatan rindu yang tak mungkin bisa aku lalui.
Krakow, 14 Desember
2031
September

keren banget tulisannya, sering-sering post ya 😁
BalasHapusTerima kasih, do'akan saja semoga nemu ide terus buat nulis, hehe. Kalau mau dishare ke temen-temen yang lain juga silakan. Semoga terhibur
BalasHapusBarokallahu fiik. Adik di IMM yang satu ini emang paling jos. Terus berkarya diik... Semoga di pertemukan sosok yang dicari nya. Ahaahaa
BalasHapusTerima kasih kak, aamiin, hehe
HapusPuitis, ada unsur sejarah dan pengetahuannya juga. Sangat menginspirasi 👍
BalasHapusTerima kasih kak, salam kenal
HapusTulisan kakak juga bagus-bagus