Introvert
Hai, salam kenal. Namaku September, memang terdengar aneh dan mungkin kamu baru pertama kali mendengar nama seperti itu. Sekarang aku masih di Leiden, melanjutkan studi magister di Leiden University dengan program studi Air and Space Law. Alasanku kenapa memilih Leiden juga terbilang aneh. Begini ceritanya : jadi dulu sewaktu masih sekolah di Indonesia, aku pernah membaca sebuah buku yang ditulis oleh Afifah Afra, judulnya De Winst. Buku ini menceritakan tentang seorang pemuda pribumi bernama RM Rangga Puruhita, sarjana ekonomi dari Universiteit Leiden yang kembali ke Hindia Belanda untuk mempraktikan ilmu yang dimilikinya untuk kemajuan penduduk pribumi. Banyak hal pelik yang harus dia lalui, mulai dari aturan Keraton Surakarta yang sangat mengikat, perjodohannya dengan Rr. Sekar Prembayun, tentang buruh pabrik gula yang dibayar rendah oleh mandor-mandornya, sampai kisah cintanya dengan Kareen Spinoza, seorang wanita Belanda yang terancam kandas. Sebenarnya intinya bukan itu yang ingin aku sampaikan, hanya karena dalam buku tersebut terdapat kata "Leiden", itu membuatku menjadi penasaran dan ingin lebih tahu lagi sebenarnya seperti apa Leiden itu. Aku semakin sering mencari informasi tentang "Leiden", seberapa hebat kota itu, mengapa seperti terasa ada hubungan khusus antara Hindia Belanda dengan Leiden. Saat itu juga, aku punya cita-cita bahwa suatu saat nanti aku ingin melihat langsung kota ini. Sesimpel itu ceritanya, dan cita-cita itu akhirnya terwujud, bahkan sekarang aku juga sekolah di sana, Universiteit Leiden (Leiden University), seperti RM Rangga Puruhita dalam cerita.
Aku seorang introvert. Aku cenderung tertutup dan suka memendam segala permasalahan yang ada padaku. Susah bagiku untuk mengungkapkan semua beban dan lebih suka menarik diri dari lingkungan sekitar. Aku lebih memilih sibuk pada duniaku sendiri dan tidak suka melibatkan aktivitas diri dengan orang banyak. Ini mungkin juga yang membuat keterampilan sosial dan komunikasiku terbilang kurang, terutama komunikasi verbal. Mengungkapkan segala apa yang ada dalam pikiranku secara verbal merupakan satu hal yang sulit bagiku. Ada yang bilang cara bicaraku terlalu cepat dan artikulasinya tidak jelas sehingga orang lain sulit memahami apa yang aku sampaikan. Memang, setelah sadar akan hal itu, aku menjadi lebih sering membaca buku, artikel, atau jurnal yang membahas tentang bagaimana cara berkomunikasi verbal dengan baik. Bahkan, tak jarang pula aku menonton video di youtube untuk mengetahui bagaimana belajar komunikasi verbal dengan jelas dan lancar. Dari membaca dan menonton video itu aku jadi tahu bahwa ternyata memang ada hubungan antara kepribadian introvert dengan kemampuan komunikasi verbal seseorang. Dalam sebuah jurnal psikologi dikatakan bahwa seorang dengan kecenderungan introvert yang dominan akan lebih sulit menyampaikan pikiran dan perasaannya secara verbal.
Mengenai komunikasi verbal ini, ada satu kejadian unik dan mungkin malah menyebalkan bagiku. Ceritanya aku pernah menyukai seseorang, sebut saja dia Desember, jelita bermata biru. Suatu ketika ingin aku sampaikan perasaan tersebut secara langsung akan tetapi aku sadar bahwa seandainya aku sampaikan secara verbal mungkin dia tidak akan paham. Benar saja, saat aku sampaikan itu secara langsung dia benar-benar tidak paham, bahkan malah menanyakan sebenarnya aku ini sedang bicara apa. Cukup menyebalkan. Sejak saat itu, aku mengerti dan sadar diri bahwa memang sulit mengungkapkan perasaan secaran langsung, bukan karena ketidakberanianku untuk menyampaikannya secara langsung, akan tetapi karena kekuranganku dalam berkomunikasi secara verbal. Selanjutnya aku memilih mengungkapkan perasaanku melalui tulisan, seperti dengan surat.
Mungkin memang benar kisahnya harus seperti itu, aku hanya diijinkan untuk mencintainya dalam diam, memujanya dari kejauhan, dan memilikinya sebatas dalam mimpi, seperti yang pernah dikatakan Jalaluddin Rumi dalam syairnya,
Introvert ...
Aku seorang introvert. Aku cenderung tertutup dan suka memendam segala permasalahan yang ada padaku. Susah bagiku untuk mengungkapkan semua beban dan lebih suka menarik diri dari lingkungan sekitar. Aku lebih memilih sibuk pada duniaku sendiri dan tidak suka melibatkan aktivitas diri dengan orang banyak. Ini mungkin juga yang membuat keterampilan sosial dan komunikasiku terbilang kurang, terutama komunikasi verbal. Mengungkapkan segala apa yang ada dalam pikiranku secara verbal merupakan satu hal yang sulit bagiku. Ada yang bilang cara bicaraku terlalu cepat dan artikulasinya tidak jelas sehingga orang lain sulit memahami apa yang aku sampaikan. Memang, setelah sadar akan hal itu, aku menjadi lebih sering membaca buku, artikel, atau jurnal yang membahas tentang bagaimana cara berkomunikasi verbal dengan baik. Bahkan, tak jarang pula aku menonton video di youtube untuk mengetahui bagaimana belajar komunikasi verbal dengan jelas dan lancar. Dari membaca dan menonton video itu aku jadi tahu bahwa ternyata memang ada hubungan antara kepribadian introvert dengan kemampuan komunikasi verbal seseorang. Dalam sebuah jurnal psikologi dikatakan bahwa seorang dengan kecenderungan introvert yang dominan akan lebih sulit menyampaikan pikiran dan perasaannya secara verbal.
Mengenai komunikasi verbal ini, ada satu kejadian unik dan mungkin malah menyebalkan bagiku. Ceritanya aku pernah menyukai seseorang, sebut saja dia Desember, jelita bermata biru. Suatu ketika ingin aku sampaikan perasaan tersebut secara langsung akan tetapi aku sadar bahwa seandainya aku sampaikan secara verbal mungkin dia tidak akan paham. Benar saja, saat aku sampaikan itu secara langsung dia benar-benar tidak paham, bahkan malah menanyakan sebenarnya aku ini sedang bicara apa. Cukup menyebalkan. Sejak saat itu, aku mengerti dan sadar diri bahwa memang sulit mengungkapkan perasaan secaran langsung, bukan karena ketidakberanianku untuk menyampaikannya secara langsung, akan tetapi karena kekuranganku dalam berkomunikasi secara verbal. Selanjutnya aku memilih mengungkapkan perasaanku melalui tulisan, seperti dengan surat.
Mungkin memang benar kisahnya harus seperti itu, aku hanya diijinkan untuk mencintainya dalam diam, memujanya dari kejauhan, dan memilikinya sebatas dalam mimpi, seperti yang pernah dikatakan Jalaluddin Rumi dalam syairnya,
'Aku mencintaimu dalam diam, karena dalam diam aku tak menemukan penolakan. Aku mencintaimu dalam kesepian, karena dalam kesepian tidak ada orang lain yang memilikimu kecuali aku. Aku memujamu dari kejauhan, karena kejauhan melindungiku dari rasa sakit. Aku menciummu dalam angin, bukankah bibirku juga akan merasakan kelembutan dari angin? Aku memiliku dalam mimpi, karena dalam mimpi, kamu tak akan pernah mati.'Benar, aku memilih untuk diam daripada menyampaikan dengan lisan. Aku memilih tulisan karena dengan tulisan perasaan itu bisa diabadikan. Pramodya Ananta Toer pernah mengatakan, "menulis adalah bekerja untuk keabadian". Aku mencoba memulainya, membuat keabadian, menyampaikan pikiran dan perasaan dengan tulisan.
Introvert ...


Selalu luar biasa, good job👍
BalasHapusTerima kasih, hanya sekadar mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui tulisan. Hehehu
BalasHapusPercayalah, Allah telah menuliskan skenario terindah untuk masing-masing insan.
BalasHapustaapram
Benar, terima kasih taapram
BalasHapusSelalu sukak ��
BalasHapus