Leiden
"Jadi ... kapan kamu akan
melamar Anjani, Damar? Ibu juga ingin bisa melihat pernikahanmu nanti."
"Iya Bu, sesegera mungkin Damar
akan melamar Anjani, mungkin nanti setelah Damar sidang magister Bu"
Itulah percakapanku dengan ibu melalui telepon tempo hari lalu. Entah mengapa seminggu ini ibu sering meneleponku dan selalu saja menanyakan kapan aku akan melamar Anjani. Jujur saja, pertanyaan itu cukup mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Memang aku menyukai Anjani, tapi tidak secepat ini aku hendak melamarnya. Terlalu cepat bagiku untuk mengatakan bahwa aku akan melamar dia. Bahkan, perkenalanku dengan dia pun boleh dikatakan karena ketidaksengajaan. Saat itu, PPI Belanda (Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda) bekerja sama dengan Indonesian Netherland Youth Society (INYS) mengadakan career event di Leiden University. Acara dibuka secara resmi oleh Duta Besar Indonesia untuk Belanda dan dihadiri oleh 40 pelajar Indonesia dari berbagai kota. Salah satu peserta acara tersebut adalah Anjani. Aku mengenalnya saat speed dating session dengan berbagai perusahaan terkemuka Indonesia ataupun Belanda. Saat itu peserta dibagi-bagi sesuai dengan latar belakang pendidikannya untuk dipasangkan dengan perusahaan-perusahaan mitra dan diberikan kesempatan wawancara singkat untuk menjajaki peluang karir di perusahaan-perusahaan tersebut. Disatukan dalam kelompok yang sama dengannya membuat kami akhirnya saling mengenal dan sedikit tahu latar belakang masing-masing. Anjani mengambil magister International Land and Water Management di Wageningen University dan tinggal di sebuah apartemen di sudut kota dengan biaya sewa 640 uero/bulan. Dia dua tahun lebih muda dariku dan waktu kami berkenalan dia baru selesai kuliah matrikulasi 4 bulan di kampusnya sedangkan aku sudah mulai penelitian.
Itulah percakapanku dengan ibu melalui telepon tempo hari lalu. Entah mengapa seminggu ini ibu sering meneleponku dan selalu saja menanyakan kapan aku akan melamar Anjani. Jujur saja, pertanyaan itu cukup mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Memang aku menyukai Anjani, tapi tidak secepat ini aku hendak melamarnya. Terlalu cepat bagiku untuk mengatakan bahwa aku akan melamar dia. Bahkan, perkenalanku dengan dia pun boleh dikatakan karena ketidaksengajaan. Saat itu, PPI Belanda (Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda) bekerja sama dengan Indonesian Netherland Youth Society (INYS) mengadakan career event di Leiden University. Acara dibuka secara resmi oleh Duta Besar Indonesia untuk Belanda dan dihadiri oleh 40 pelajar Indonesia dari berbagai kota. Salah satu peserta acara tersebut adalah Anjani. Aku mengenalnya saat speed dating session dengan berbagai perusahaan terkemuka Indonesia ataupun Belanda. Saat itu peserta dibagi-bagi sesuai dengan latar belakang pendidikannya untuk dipasangkan dengan perusahaan-perusahaan mitra dan diberikan kesempatan wawancara singkat untuk menjajaki peluang karir di perusahaan-perusahaan tersebut. Disatukan dalam kelompok yang sama dengannya membuat kami akhirnya saling mengenal dan sedikit tahu latar belakang masing-masing. Anjani mengambil magister International Land and Water Management di Wageningen University dan tinggal di sebuah apartemen di sudut kota dengan biaya sewa 640 uero/bulan. Dia dua tahun lebih muda dariku dan waktu kami berkenalan dia baru selesai kuliah matrikulasi 4 bulan di kampusnya sedangkan aku sudah mulai penelitian.
"Kalau boleh tahu, Mas Damar studi dimana dan mengambil
jurusan apa?"
"Aku studi di Leiden, Anjani,
mengambil program studi Air and Space Law."
"Wah bagus itu Mas,
mungkin sesekali kita bisa diskusi, sekalian Anjani juga pingin lebih tahu gimana tips
kuliah di Belanda itu."
"Tentu saja, Anjani, silakan.
Dengan senang hati."
Itulah awal mula perkenalanku dengan
Anjani, dan waktu itu kupikir aku mulai menyukainya.
***
Sejak pertemuan itu, kami mulai
dekat. Tak jarang aku mengajaknya untuk menghadiri seminar atau hanya sekadar
jalan-jalan mengelilingi kota. Pun seperti sore ini, aku ajak dia ke salah satu
rumah mahasiswa Indonesia di Amsterdam menghadiri undangan PPI di sana untuk
mengisi sharing online dengan pelajar
di Indonesia yang ingin kuliah di Belanda, kebetulan tadi pagi aku ada
presentasi paper di Wageningen jadi
bisa sekalian berangkat dari sana. Jarak kota Wageningen dengan Amsterdam
lumayan jauh, sekitar 87 km. Kami berangkat pukul 5 sore dari Wageningen Busstation menggunakan bus sampai Station-Ede, Wageningen, kemudian lanjut naik kereta dan turun di Amsterdam Centraal. Aku sengaja
mengajak Anjani ke Amsterdam supaya dia bisa kenal dengan teman-teman PPI di
sana sekaligus aku pun punya kesempatan untuk mengobrol lebih lama dengannya.
“Anjani, menurutmu apa simbol
kesetiaan cinta?”
“Mungkin kesetiaan cinta antara Rama
dan Sinta dalam kisah ramayana, Mas. Sinta mencintai Rama dari saat pertama
kali dia melihat Rama sewaktu negeri Ayodya mengadakan sayembara mengangkat gandewa sakti dan Rama berhasil
mengangkat gandewa tersebut. Mulai
saat itu Sinta jatuh cinta dan berjanji untuk setia kepada Rama.”
“Bagaimana dengan Rama? Bukankah
ketika Sinta diculik Rahwana ke Alengka, Rama berusaha keras membawa kembali
Sinta ke Ayodya akan tetapi setelah Rama sudah hampir berhasil dan hendak
membawa Sinta pulang ada perasaan curiga apakah Sinta masih suci?”
“Aku kurang tau, Mas. Memang cinta bukan hanya sekadar kata, tapi tentang rasa
dimana rasa itu tidak butuh suatu alasan, karena cinta dengan alasan itu bukan
cinta, tapi kalkulasi.”
Dalam hati aku membenarkan.
***
Kami tiba di sana sekitar pukul tujuh
sore. Sampai depan rumah kami langsung dibukakan pintu dan dipersilakan masuk
oleh Andi, adik kelasku dulu sewaktu
masih SMA. Ternyata di rumah sudah ramai, ada Mas Bagus, Mas Fajar, Mbak Ainun, Agam, Anggi, dan beberapa
pelajar Indonesia lain yang belum cukup kukenal.
“Loh,
Mas Damar sekarang sudah punya gandengan, tho? Mantap lah Mas, aku
kira sampeyan ngga normal gitu loh, dari dulu belum pernah dekat sama
perempuan.”
“Hahaha,
bisa aja kamu Nggi. Kenalin ini Anjani, sekarang masih studi magister di
Wageningen, ngambil International Land
and Water Management. Oh iya, Aku sama Anjani mau sholat Ashar dulu
ya, tadi belum sempat sholat di perjalanan”
“Siap Mas, selesai sholat langsung
ke sini ya. Mbak Anjani jangan lupa diajak lagi ke sini, jangan malah ditinggal di belakang. Tapi kalau mau
istirahat dulu juga gapapa, kamar
sudah siap. Nanti Mbak Anjani masuk
kamar Anggi aja kalau mau istirahat, pasti kan capek perjalanan jauh dari Wageningen. Insya Allah acaranya nanti jam delapan sampai waktu maghrib.”
Jadwal sholat di sini memang beda
dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia adzan ashar sekitar pukul 3.15 sore, di
sini adzan ashar pukul 6.03 sore, sedangkan maghribnya sekitar pukul 9.49
malam. Selesai sholat aku memutuskan untuk istirahat dulu di kamar yang sudah
disediakan. Tidak ada perubahan signifikan dari kamar ini, masih sama seperti
saat terakhir aku ke sini waktu syukuran kelulusan Mas Angga dulu, mungkin hanya sebagian sudutnya yang sudah dicat
ulang.
Pukul setengah delapan aku datangi
kamar Anjani, sekadar mengingatkan agar siap-siap kumpul. Terdengar dari dalam
jawaban mengiyakan. Aku sudah di ruang tengah saat Anjani datang. Sesi sharing online dimulai tepat pukul
delapan malam, dimulai dengan perkenalan kemudian dilanjutkan dengan sharing pengalaman belajar di Belanda
dengan pelajar di Indonesia dan dibuka sesi tanya jawab.
***
“Assalamu’alaikum
Ibu, gimana kabar Ibu di Indonesia? Semoga keluarga di rumah selalu diberi
kesehatan dan keselamatan. Oh iya, Bu, insya
Allah siang ini Damar akan sidang tesis, mohon do’anya semoga dilancarkan
dalam presentasinya. Aamiin”
“Wa’alaikumussalam
warahmatullah. Alhamdulillah ibu sekeluarga sehat di sini. Semoga sidang
tesismu lancar ya, Nak. Jadi kapan kamu akan melamar Anjani? Ibu juga sebentar
lagi mau pamit pergi dan kamu akan segera pulang ke Indonesia.”
“Insya
Allah sore ini setelah sidang, Damar akan melamarnya, Bu.”
Aku baca lagi smsku untuk ibu melalui ponsel. Sudah kuputuskan aku akan
melamar Anjani sore ini juga. Selesai sidang, aku mengajak Anjani pergi ke Botanical Garden sembari menikmati udara segar Leiden. Tepat
ketika aku akan mengatakannya, tiba-tiba ponsel dalam sakuku bunyi, ada telepon
masuk dari Ranti, adikku di Indonesia
“Mas,
ibu Mas, ibu meninggal dunia. Mas Damar segera pulang ke Indonesia
ya.”
“Innalillahi
wa inna ilaihi raaji’uun.”
Tampak di sampingku Anjani ikut menangis
mendengar kabar tersebut. Sama sekali aku tidak pernah punya firasat kalau ibu
akan pergi secepat ini. Sekilas Aku buka lagi ponselku, kembali aku baca pesan
terakhir dari ibu, ibu juga sebentar lagi
mau pamit pergi dan kamu akan segera pulang ke Indonesia. Seketika air
mataku mengalir.

Komentar
Posting Komentar