Dwimuka


Topeng



Hai Desember
Jelita bermata biru

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hai Desember, bagaimana kabarmu? Do'aku semoga kamu, aku, keluargamu, keluargaku, dan orang-orang yang pernah mengenal kita selalu diberikan kesehatan dan keselamatan. Terkadang aku merasa khawatir manakala lama tidak mendengar kabar tentangmu, meskipun memang biasanya seperti itu, tidak pernah ada satupun kabar darimu, kecuali hanya sebatas yang aku lihat dari status di media sosialmu. Terdengar sedikit menjengkelkan memang, tapi bukankah terkadang yang menjengkelkan itu justru membuat seseorang semakin penasaran? Entah.

Beberapa hari yang lalu, aku menghadiri acara pameran seni Indonesia di Amsterdam dimana dalam acara tersebut dipamerkan berbagai  macam kesenian yang ada di Indonesia, baik itu seni musik, seni lukis, seni tari, dan berbagai kesenian lainnya. Satu membuatku  sangat tertarik adalah ketika melihat kesenian tari topeng. Kamu pernah tertarik dengan seni tari topeng, Desember? Kalau tidak, berarti kita sama, sebelumnya aku pun sama sekali tidak tertarik dengan seni topeng, tapi setelah menghadiri acara tersebut aku baru menyadari bahwa ada seni dan nilai luhur yang luar biasa dari sebuah topeng yang mungkin sebelumnya kita anggap adalah hal yang biasa saja. Kamu tahu Tari Topeng Pejambon, Topeng Hudog, atau Topeng Krodomongso? Aku rasa kamu belum mengetahuinya, dan seperti biasa tugasku adalah menjelaskan itu untukmu agar kamu juga tahu. Jadi, Tari Topeng Pejambon merupakan salah satu jenis tarian Dwimuka atau dua wajah, yang artinya kamu bisa menikmati tarian tersebut dari dua sudut pandang, depan dan belakang atau dari kanan dan kiri. Tarian ini dikemas dalam dua karakter, sisi kanan berwarna merah, sementara sisi kiri berwarna putih. Sebenarnya, tarian ini terinspirasi tarian India yang berwujud Ardanari.  Perwujudan Siwa yang menggambarkan laki-laki di sebelah kanan dan wanita di sebelah kiri, maskulin, dan feminim. Kemudian ada tari Topeng Hudog. Topeng Hudog berasal dari suku Kenyah, Bahau, dan Modang di Kalimantan. Dalam kenyakinan mereka, hudog adalah semacam makhluk supranatural yang memiliki habitat di hutan-hutan belantara. Ada juga yang mengatakan bahwa Hudog sebenarnya adalah anak dewa yang diutus turun ke bumi untuk memberi kejayaan, kemakmuranm dan kesuburan bagi suku Dayak. Bentuk Hudog seperti burung Enggan yang menggambarkan keagungan. Sayangnya tarian ini sudah sangat langka, Desember, mungkin kalau kamu berkunjung ke daerah asalnya juga belum tentu dapat melihatnya. Bahkan ada satu anekdot yang mengatakan penyebab utama Hudog mulai langka adalah karena hutan-hutan Kalimantan sudah banyak yang gundul bahkan berlubang, makanya hudog-hudog tersebut lari entah kemana karena habitatnya sudah hilang. Ada lagi tari Topeng Krodomongso. Menurut pembuatnya, Krodomongso adalah penggambaran dari tokoh masyarakat yang dia temui di daerah Kediri, Jawa Timur. Ada cerita unik di balik topeng antik ini. Krodomongso menggambarkan seorang tokoh yang bijaksana, bermata tajam dengan tatapan yang terkesan melotot karena serius dalam memandang sesuatu. Alisnya dibuat mengekrut, tanda bahwa dia terbiasa berpikir keras. Mulut Krodomongso monyong menggambarkan orang yang suka bicara dalam kebijakan. Kemudian, hidungnya dibuat melesek dan agak pesek untuk menggambarkan bahwa dia susah dicium dan susah dilacak bagaimana dia sebenarnaya. Bagiku, yang menarik dari topeng adalah cerita di baliknya. Cerita dibalik topeng sarat akan nilai-nilai kemanusiaan, kebahasaanm unggah-ungguh kemanusiaan. Selain itu bahan yang digunakan untuk membuat topeng juga sangat tinggi nilainya. Waktu di Amsterdam, banyak orang asing yang mencari topeng dari Indonesia karena tahu luar biasa nilainya, karakternya, juga pesan-pesan ceritanya. Sayangnya, justru masyarakat asing yang lebih peduli dan tertarik dengan kesenian itu daripada orang Indonesia sendiri sebagai pemiliknya.

Entah, aku cerita panjang lebar seperti ini apakah membuatmu jadi suka atau justru malah terlihat membosankan. Yang pasti tujuanku adalah memperkenalkan sesuatu yang mungkin belum kamu ketahui sebelumnya. Aku rasa dengan kesibukanmu selama ini di perkuliahan tidak akan sempat untuk lebih mencari tahu tentang hal seperti ini. Sebenarnya, kamu pun bisa belajar nilai-nilai kehidupan dari kesenian tersebut. Mungkin satu hal yang menyebalkan adalah ketika kata "topeng" seringkali dikonotasikan dengan hal yang sifatnya negatif. Memang tidak salah dan tidak benar-benar juga. Dalam kehidupan nyata pun kita seringkali memakai "topeng" untuk sekadar menutupi watak atau perasaan kita sebenarnya. Bahkan aku sendiri pun seperti itu. Teradang ketika di luar, aku harus memakai topeng "bahagia" agar orang lain selalu melihatku dalam keadaan bahagia. Aku rasa kamu pun pernah pakai "topeng" itu, Desember, meskipun aku tidak tahu pada waktu kapan itu. Mungkin malah ketika terakhir kita bertemu, kamu masih menggunakan "topeng" tersebut dan aku tidak tahu. Yang aku tahu sore itu kamu tersenyum, aku ikut tersenyum, tapi belum tentu juga apakah senyum itu memang untukku.

Bicara tentang senyum, aku jadi teringat cerita ketika Anoman diutus pangeran Rama untuk menemui Dewi Sinta di Alengka. Waktu itu, sehari sebelum menemui Dewi Sinta, tidak sengaja Anoman bertemu dengan Trijata di Taman Argasoka. Anoman kemudian mencoba mendekati Trijata, dan Trijata pun sama sekali tidak merasa risih ketika didekati Anoman. Bahkan waktu itu Trijata tersenyum, senyuman tulus yang itu benar-benar ditujukan untuk Anoman. Dalam diam Anoman sangat menikmati senyum tersebut, baginya ia seolah melihat senyum terakhir ibunya sebelum akhirnya meninggalkannya di tengah hutan belantara atas perintah dewa. Anoman merasakan kasih sayang ibunya saat melihat senyum Trijata. Senyum pertama yang membuat mereka berdua jatuh cinta. Sesederhana itu terkadang cinta itu datang, Desember.

Sekarang masih bulan September, seperti yang dulu pernah aku katakan bahwa September adalah permulaan dan akhirnya adalah Desember. Aku tidak tahu apakah Desember juga berpikir seperti itu  dan menjadikan September sebagai awal cerita perjalanannya. Entah.



Amsterdam, 26 September 2032

September




Komentar

  1. Selalu sukak. Byk pengetahuan baru yg dishare. Tp ada bbrp yg typo mas. Coba dicek lagi deh. Overall bagus. Semangat trs mas dlm berkarya 👍

    BalasHapus

Posting Komentar